HaHaHaHaHa

SELAMAT DATANG DI
" GUDANG ILMU GIGI "
ENJOY n FUN
NIKMATI ILMU YANG KAMI SAJIKAN

Senin, 02 April 2012

Faktor-Faktor Yang Berperan Pada Proses Radang

Faktor-Faktor Yang Berperan Pada Proses Radang
Pada beberapa keadaan, proses peradangan sejak awal dapat terganggu, yaitu pada stasium eksudatif. Seluruh proses radang bergantung pada sirkulasi yang utuh ke daerah yang terkena. Jadi, jika suplai darah ke suatu daerah berkurang, akibatnya dapat berupa proses peradangan yang sangat lambat, infeksi yang menetap, dan penyembuhan yang buruk. Syarat lain agar peradangan eksudatif efisien adalah suplai leukosit yang bebas di dalam sirkulasi darah. Pasien-pasien yang mengalami kerusakan atau depresi sumsum tulang (misal, akibat penyakit keganasan atauefek samping obat-obatan) tidak mampu memproduksi eksudat selular dengan fungsi normal dan sebagai akibatnya adalah rentan terhadap infeksi berat. Yang lebih jarang, fungsi leukosit dapat terganggu, walaupun jumlahnya normal (misal, kemotaksis abnormal, fagositosis normal, atau pembunuhan intraselular dan pencernaan abnormal), dan pasien dengan cara yang sama menjadi rentan terhadap infeksi agresif. Karena fungsi leukosit dibantu oleh antibodi tertentu, maka reaksi peradangan juga secara normal kurang efektif pada pasien-pasien imunodefisiensi. Akhirnya, obat-obatan tertentu dalam dosis yang cukup tinggi dapat menghambat aspek-aspek penting respons peradangan. Sebagai contoh, jika seorang pasien menerima kortikosteroid dosis tinggi atau obat0obatan antiinflamasi lain, peradangan dan penyembuhan dapat terganggu.

Minggu, 01 April 2012

Penyembuhan Luka

Penyembuhan Luka
Koordinasi pembentukan parut dan regenerasi mungkin paling mudah dilukiskan pada penyembuhan luka di kulit. Jenis penyembuhan yang peling sederhana terlihat pada penanganan luka oleh tubuh seperti pada insisi pembedahan, yang tepi lukanya dapat saling di dekatkan untuk dimulainya proses penyembuhan. Penyembuhan seperti itu disebut penyembuhan primer atau healing by first intention. Segera terjadi luka, tepi luka disatuka oleh tepian darah yang fibrinnya bekerja seperti lem. Segera setelah itu terjadilah reaksi peradangan akut pada tepi luka itu, dan sel-sel radang, khususnya makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai menghancurkannya. Setelah reaksi peradangan eksudatif ini, dimulailah pertumbuhan jaringan granulasi ke arah dalam pada daerah yang sebelumnya ditempati oleh, bekuan-bekuan darah. Dengan demikian setelah beberapa hari, luka tersebut dijembatani oleh jaringan granulasi. Yang disiapkan untuk matang menjadi sebuah parut. Sementara proses ini terjadi, epitel permukaan di bagian tepi melakukan regenerasi, dan dalam waktu beberapa hari lapisan epitel yang tipis bermigrasi di atas permukaan luka. Seiring dengan jaringan perut di bawahnya menjadi matang, epitel ini juga menebal dan matang, sehingga menyerupai kulit di dekatnya. Hasilnya adalah terbentuknya kembali permukaan kulit dan dasar jaringan parut yang tidak nyata atau hanya terlihat sebagai satu garis yang menebal. Banyak luka di kulit yang sembuh dengan cara seperti ini tanpa perawatan medis. Pada luka lain, diperlukan jahitan untuk mendekatkan kedua tepi luka sampai terjadi penyembuhan. Jahitan dapat diangkat jika sudah terjadi organisasi dan regenerasi epitel hingga pada suatu saat tepi luka tidak akan membuka lagi jika benang di lepas. Jadi, di daerah kulit yang relatif terdapat sedikit tegangan, jahitan dapat diangkat dalam beberapa hari, jauh sebelum tercapai kekuatan parut dan sebelum tertimbunnanya kolagen dalam jumlah yang cukup. Di daerah yang teregang, jahitan harus dibiarkan di tempatnya lebih lama untuk menahan jaringan sampai dapat terbentuk jaringan parut yang kuat.
Pola kedua penyembuhan terjadi jika kulit yang mengalami luka sedemikian rupa sehingga tepinya tidak dapat saling didekatkan selama proses penyembuhan. Keadaan ini disebut healing by seccond intention atau kadang disebut penyembuhan dengan granulasi. Jenis penyembuhan ini secara kualitatif identik dengan yang diuraikan di atas. Perbedaannya yaitu hanya lebih banyak  jaringan granulasi yang terbentuk, dan biasanya terbentuk jaringan perut yang luas. Tentu saja, proses tersebut memerlukan waktu penyembuhan yang lebih lama daripada penyembuhan primer. pada luka besar yang terbuka semacam itu, sering dapat terlihat jaringan granulasi yang menutupi dasar luka seperti sebuah  karpet yang lembut, yang mudah berdarah jika disentuh. Pada keadaan lain, jaringan granulasi sebenarnya tumbuh di bawah keropeng dan regenerasi epitel tampaknya terjadi di bawah keropeng. Akhirnya pada keadaan ini, keropeng terlepas setelah penyembuhan lengkap.
Sebenarnya penyembuhan pada setiap jaringan tubuh terjadi dengan proses yang berjalan sesuai dengan yang digambarkan untuk kulit, dengan variasi-variasi lokal, bergantung pada kemampuan jaringan untuk beregenerasi dan sebagainya.


Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan
Proses penyembuhan, karena kebergantungannya pada proliferasi selular dan aktivitas sintetik, terutama sensitif terhadap defisiensi suplai darah lokal (dengan akibta gangguan pengiriman bahan baku), dan juga sensitid terhadap keadaan gizi pasien. Pada pasien yang sangat kekurangan gizi, penyembuhan luka tidak optimal. Penyembuhan luka juga diganggu oleh adanya benda asing atau jaringan nekrotik di dalam luka, adanya infeksi pada luka, dan imobilisasi serta pendekatan tepi luka yang tidak sempurna. Pada kasus yang nyata, dengan kegagalan pengobatan, luka bedah mungkin mengalami dehisensi, atau terbuka.

Sabtu, 31 Maret 2012

Peradangan atau Inflamasi

Peradangan
Peradangan adalah reaksi vaskular yang menimbulkan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut, dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial di daerah cedera atau nekrosis.
Sebutan suatu proses peradangan sebagai akut, subakut, atau kronis mencerminkan lamanya perbaikan. Peradangan akut, menurut definisi tidak memiliki segi-segi perbaikan; proses ini hanya terdiri atas fenomena peradangan eksudatif. Pada peradangan subakut, ada permulaan pertumbuhan ke arah dalam jaringan granulasi dan mungkin permulaan regenerasi. Pada peradangan kronis, bukti adanya perbaikan lanjut berdampingan dengan berlanjutnya eksudasi. Bukti perbaikan lanjut meliputi proliferasi regeneratif yang luas dan pembentukan parut yang luas disertai kolagen.
Rubor (kemerahan)
Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Seiring dengan dimulainya reaksi peradangan, arteriol yang memasok daerah tersebut berdilatasi sehingga memungkinkan lebih banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong, atau mungkin hanya sebagian merenggang, secara tepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini disebut dengna hiperemia atau kongesti, menyebabkan kemerahan lokal pada peradangan akut. Tubuh mengontrol produksi hiperemia pada awal reaksi peradangan, baik secara neurologis maupun kimiawi melalui pelepasan zat-zat seperti histamin.
Kalor (panas)
Kalor atau panas, terjadi bersamaan dengan kemerahan pada reaksi peradangan akut. Sebenarnya reaksi peradangan secara khas hanya merupakan reaksi peradangan yang terjadi pada permukaan tubuh, yang secara normal lebih dingin dari 370 C yang merupakan suhu inti tubuh. Daerah peradangan di kulit menjadi lebih hangat dari sekelilingnya karena lebih banyak darah (pada suhu 370 C) dialirkan dari dalam tubuh ke permukaan daerah yang terkena dibandingkan dengan ke daerah yang normal. Fenomena hangat lokal ini tidak terlihat di daerah-daerah meradang yang terletak jauh dari tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut sudah memiliki suhu inti 370 C dan hipermi lokal tidak menimbulkan perbedaan.
Dolor (nyeri)
Dolor, atau nyeri, pada suatu reaksi peradangan tampaknya ditimbulkan dalam berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal, ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang sama, pelepasan zat-zat kimia tertentu seperti histamin atau zat-zat kimia bioaktif lain dapat merangsang saraf. Selain itu pembengkakan jaringan yang meradang menyebabkan peningkatan tekanan lokal yang tidak diragukan lagi dapat menimbulkan nyeri.
Tumor (pembengkakan)
Aspek yang paking mencolok pada peradangan akut mungkin adalah tumor, atau pembengkakan lokal yang dihasilkan oleh cairan dan sel-sel yang berpindah dari aliran darah ke jaringan intertisial. Campuran cairan dan sel-sel ini yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat. Pada awal perjalanan reaksi peradangan, sebagian besar eksudat adalah cairan, seperti yang terlihat secara cepat di dalam lepuhan setelah luka bakar ringan pada kulit. Kemudian, sel-sel darah putih atau leukosit, meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian eksudat.